Laman

Selasa, 08 April 2014

Sekolah Orang Tua Ar Raihan: Karakter Keluarga Muslim

BANTUL, sdit.arraihan.org--Sedekah menuai berkah. Itulah tema utama yang diusung Sekolah Orang Tua Ar Raihan yang diselenggarakan Sabtu (5/4/2014) di Gedung Gapensi Bantul. Acara yang dimulai pukul 12.30 WIB tersebut dibuka pada pukul 13.10 oleh Kepala SDIT Ar Raihan, Faris Fantoro.

Dalam sambutannya, Faris Fantoro menyampaikan bahwa Ar Raihan, khususnya SDIT Ar Raihan merupakan sekolah Islam terpadu yang tergabung dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Pada tahun 2014 ini, JSIT telah menginjak usia kesepuluh tahun. Dalam usia yang sudah cukup berumur tersebut, JSIT senantiasa berinovasi. Tahun ini, JSIT mengagendakan pelaksanaan akreditasi sekolah Islam terpadu dan pengembangan lembaga penjamin mutu sekolah Islam terpadu.

Hal tersebut menunjukkan besarnya perhatian organisasi yang beranggotakan 1200-an sekolah Islam terpadu di Indonesia ini terhadap kualitas pendidikan. Oleh karena itu, saat akan menyekolahkan putra-putrinya di sekolah Islam terpadu, orang tua hendaknya mencermati, apakah sekolah yang dipilih telah tergabung ke dalam organisasi JSIT atau belum.

Sekolah Orang Tua Ar Raihan kali ini sengaja mengangkat tema utama “sedekah menuai berkah”. Selain mendidik anak untuk membiasakan diri, sedekah juga diharapkan untuk membiasakan anak tidak jajan, papar Faris Fantoro.

Sebagai pemateri utama sekolah orang tua kali ini adalah Trianawati Nunung Bintari (Bu Nunung) bersama suaminya, Arif Rahman Hakim (Pak Arif). Keduanya merupakan pengurus Yayasan Ar Raihan. Sebagai moderator, panitia mendaulat Triadmoko, guru sekaligus mantan Kepala SDIT Ar Raihan.

Pada kesempatan itu, Bu Nunung mengerucutkan pembahasan tentang karakter keluarga muslim. Dia pun bercerita tentang putra-putrinya. Secara konsisten Bu Nunung menyekolahkan putra-putrinya di Ar Raihan. Hasil didikan lembaga pendidikan Ar Raihan terbukti mampu bersaing di dalam dan luar negeri. Tiga di antara putra Bu Nunung tercatat diterima sebagai mahasiswa di Jerman, Rusia, dan Mesir. Bu Nunung memerdekakan putra-putrinya untuk memilih sekolah. Perannya sebagai orang tua sekadar mengarahkan anak-anaknya. Oleh karena itu, ibu tujuh anak ini harus menerima dengan lapang dada ketika anak yang diterima di Universitas Kairo lebih memilih sekolah seni di Indonesia.

Sebuah catatan khusus dari Bu Nunung, satu di antara anaknya autis. Dia tidak perlu sekolah khusus untuk mendidik anaknya itu. Ar Raihan terbukti mampu memberikan perhatian terhadapnya. Anak yang di sekolahkan di Ar Raihan tersebut dapat berkembang sesuai yang diharapkan. Ini berkat kompetensi dan integritas guru dan karyawan Ar Raihan, ujarnya.
Sementara itu, Arif Rahman Hakim menyampaikan tiga jenis amal yang tidak terputus. Suami Bu Nunung itu mengungkapkan, tiga jenis amal tersebut adalah (1) amal jariyah, (2) ilmu yang bermanfaat, dan (3) doa anak sholeh. Ar Raihan insya Allah sangat memperhatikan ketiga hal tersebut, ujarnya. Untuk menjadikan anak sholeh, orang tua hendaknya menjadi teladan. Pengurus Yayasan Ar Raihan dan Anggota DPRD Provinsi Di Yogyakarta ini mengungkapkan, parenting school ini adalah bakti perhatian Yayasan Ar Raihan dalam mewujudkan para wali siswa Ar Raihan menjadi orang tua sholeh dan sholehah.

Materi yang disampaikan oleh pasangan yang menikah muda ini disambut antusias oleh para peserta. Pada sesi tanya jawab, para orang tua yang terdiri atas wali siswa SDIT dan SMPT Ar Raihan itu menyempatkan bertanya dan menyampaikan permasalahannya. Di antara orang tua ada yang menyayangkan keterbatasan buku parenting yang membahas remaja. Padahal, pada usia tersebut, anak memerlukan perhatian dan pendampingan khusus. Ketersediaan buku-buku parenting yang berkualitas dapat dijadikan rujukan para orang tua dalam mendidik.

Acara yang berlangsung hingga pukul 15.00 ini ditutup dengan informasi Yayasan Ar Raihan. Ketua Yayasan Ar Raihan, Slamet, M.Si., menyampaikan informasi tentang perkembangan Ar Raihan, infak dan wakaf, serta informasi pendaftaran SMPIT Ar Raihan. [@sabjanbadio, Indriana P. Dewi]